Pemimpi yang Terbangun
Mentari pagi menusuk jendela kamar ku, jam dinding di kamarku menunjukkan sekitar setengah jam lagi jam pelajaran akan segera dimulai, aku bergegas mandi dan memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas ransel pink kesayanganku, kurapikan rambut panjang ku serta tak lupa pula kuselipkan pita merah jambu pemberian papa tiga tahun lalu. “Itu bekalnya di meja, belajar yang bagus kayak kakak kamu!”Teriakan mama terdengar sangat melengking di telingaku.
Aku mengambil bekal itu serta memasukkannya kedalam tas ku. “Makasih ma, aku berangkat ya ma?’’ Jawab ku sambil melangkah kedepan pintu namun jawaban ku tak pernah disahut kembali oleh mama. Itulah kata-kata yang setiap pagi mama lontarkan kepada ku setiap aku hendak berangkat sekolah, hati ku sebenarnya pedih mendengarnya, mama tidak pernah melihat sesuatu yang positif dariku, mama selalu memandangku bodoh, mama selalu menunjukkan sisi tidak sukanya kepada ku , entahlah sejak kapan mama bersikap seperti ini terhadap ku, yang kutau selama umur ku saat ini mama tidak pernah memberiku sebuah apresiasi, wajar memang dan akupun mengetahui alasan mama bersikap seperti itu, aku sungguh sangat berbeda dengan kembaran ku,Nadine.
Ya aku punya seorang kembaran yang sungguh pintar,aktifis dan sangat terpandang di sekolah karena berbagai prestasinya bahkan sering bolak-balik pertukaran pelajar ke sekolah-sekolah terkenal di luar negeri.
Nadine memang sungguh terampil berbagai bidang, aku tidak tahu dimana kelemahannya, dia cantik, pintar, dan sangat berbakat. Nadine sering menjuarai olimpiade-olimpiade pelajaran sampai ke tingkat nasional jadi memang wajar kalau mama sangat bangga memiliki anak perempuan seperti dia.
Berbeda dengan ku….aku adalah seorang yang sangat lemah di bidang akademik, kemampuan berhitungku sangat rendah sehingga tak jarang aku mendapatkan nilai ujian matematika yang amat memalukan sehingga membuat mama sering kecewa pada ku, mama terus membiayai perlengkapan ku dan dia sering menyuruh seseorang yang ahli matematika untuk mengajari ku berhitung tapi sayangnya aku masih saja lambat dalam setiap soal-soal perhitungan, jadi itulah sebabnya mama tak pernah memberikan perlakuan spesial pada ku seperti pada Nadine.
Tak terasa aku sudah sampai di depan kelas ku kelas 3E, rupanya sejak tadi langkah ku sangat cepat diikuti dengan pikiran ku yang mengingat-ingat sesuatu yang membuatku semakin terpuruk. “Milaaaa….. kamu lama banget sih nyampe ke kelas, aku kirain kamu ga masuk hari ini, kamuu dari mana aja sih ?’’ Tanya Eka, teman sebangku ku yang selalu menunggu ku di pintu, “iya tadi aku telat bangun makanya lama nyampenya…’’ jawabku singkat pada Eka. “Kamu emang kok ga bareng sama kakak kamu? Tadi aku lihat Nadine nyampenya cepat…” Pertanyaan Eka sungguh membuat ku bingung, dia padahal sudah sering melihat bahwa aku dan Nadine memang tidak pernah berangkat sekolah bersamaan, kata Nadine sih dia tidak mau kalau satu sekolahan tahu bahwa kita berdua adalah kakak beradik, entahlah…aku juga bingung alasannya Nadine bersikap demikian namun kurasa dia memang malu punya saudara yang jelek dan bodoh seperti aku.Aku menghiraukan pertanyaan Eka barusan dan langsung menuju tempat duduk ku yang ada di pojok paling belakang. Bel tanda dimulainya pelajaran pun berbunyi, tampak Bu Rina guru matematika di kelas ku sedang mempersiapkan materi yang akan diajarkannya. “Selamat pagi semua!” sapa bu Rina. “Selamat pagi bu…!!!’’ sahut teman-teman sekelasku yang sepertinya sangat bersemangat memulai pelajaran matematika hari ini.
Pelajaran pun dimulai dan bu Rina sangat serius menjelaskannya tapi tetap saja aku sangat tidak mengerti dengan materi yang sejak tadi diajarkannya…disaat teman-teman ku begitu serius dengan perhitungan mereka di bukunya masing-masing aku malah bingung apa-apa yang perlu dihitung dan dikerjakan. Akhirnya untuk mengurangi kebosanan ku, akupun mengeluarkan buku gambar beserta pensil warna ku, aku menggambar sawah yang indah beserta pohon-pohon yang rindang di suatu desa. “Eh Mila kamu ngapain menggambar sekarang? Kamu ga lihat disini saya sedang menjelaskan?’’ suara bu Rina mengagetkanku saat aku sedang fokus mewarnai gambaran ku. Aku kaget dan langsung menutup buku gambar ku serta ku tundukkan wajah ku dari pandangan bu Rina yang sangat menyeramkan, baru saja aku ingin meminta maaf, bu Rina langsung menyuruh ku keluar dengan membawa buku gambar ku. “kamu diluar saja, terserah kamu mau ngapain disana, yang penting saya tidak mau melihat wajah kamu di kelas ini!!!” Suara bu Rina benar-benar sangat membuat ku ingin menangis namun aku langsung beranjak melangkah keluar karena takut bu Rina akan lebih emosi jika melihat ku terus berlama-lama di dalam kelas ini.
Aku duduk di sekitaran koridor sekolah, aku menundukkan kepala ku hingga air mata ku terasa mengalir di pipi ku. “emang ya kamu selalu buat malu, mending berhenti sekolah aja kalau taunya cuman habisin uang mama doang!” ucap Nadine yang kebetulan sedang lewat dari depan kelas ku. Aku hanya bias diam dan diam, lagian apa yang diucapkan Nadine memang benar adanya.
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk pergi ke kuburan papa, aku sungguh rindu dengan papa…hanya papa yang tulus bisa menerima ku apa adanya. Di perjalanan langkah ku terhenti ketika aku melihat sebuah poster perlombaan, akupun menghampiri poster perlombaan tersebut dan melihat ternyata sebuah perusahaan sedang mencari orang yang berbakat dalam membuat suatu baju dengan desain yang unik dan menarik yang nantinya akan dikenakan oleh model luar negeri, dengan bersemangat akupun menarik poster tersebut serta memasukkannya ke kantong baju sekolah ku.
Sesampainya di kuburan papa aku memeluk dan mencium makammya “Pa… aku ingin mengikuti lomba, semoga dengan ini aku bisa mewujudkan cita-cita ku sebagai desainer hebat ya pa…” tak hentinya aku meneteskan air mata ku, sungguh aku teringat ucapan papa dulu “sayang dalam hal meraih cita-cita, kamu tidak perlu memaksakan apa yang tidak sesuai dengan kemampuan mu, yang paling penting fokuslah pada kelebihanmu” ucap papa beberapa tahun lalu saat aku sedang frustasi mengerjakan soal matematika ku. Ya papa benar aku harus mengembangkan keahlianku dalam menggambar pikirku.
Aku berjalan menuju pintu rumah, tampak mama disana sedang berdiri menungguku
“cepat masuk!” ujar mama dengan nada ketusnya. “Mama benar-benar heran melihat kamu, dari hari ke hari kamu taunya cuman buat malu saja! Mama heran apa kamu gak pengen seperti Nadine yang pintar dan selalu memenangkan olimpiade?, kamu disuruh sekolah aja tidak becus” ujar mama. Dengan berani aku menghadap wajah mama “Ma… aku memang sangat lemah dalam pelajaran, aku bodoh, aku tidak lancar berhitung dan aku tidak pernah berprestasi, tapi dibalik itu semua aku juga sangat ingin membahagiakan mama, aku hanya ingin mama mengerti bahwa aku punya kemampuan lain yang bisa aku kembangkan ma” jawabku sambil mengeluarkan poster lomba dari baju sekolahku. “Mama nyekolahin kamu karena mama pengen kamu pintar, mama pengen kamu kelak bisa jadi dokter, kalau hanya bermodalkan pintar menggambar emang kamu mau jadi apa?” jawab mama sambil pergi meninggalkan ku.
Air mata ku kembali membasahi pipi ku, bahkan mama tidak pernah menghargai kemampuan ku, aku bergegas masuk ke kamar dan menutup pintu, aku menangis sepuasnya dan dalam hati aku berkata “ini mimpiku, ini cita-cita ku, siapapun tidak bisa menghalangi aku”. Kubongkar tabungan kecil ku, kuambil semua uang didalamnya dan aku bergegas untuk mengirim biaya pendaftaran lomba tersebut serta membeli peralatan menjahit dengan secukupnya karena jika aku meminta dari mama, mama pasti tidak akan memberikannya. Dengan penuh semangat aku mengambil buku serta peralatan menggambar lainnya, aku berusaha membuka pikiran ku dan menemukan ide baju yang akan kubuat, perlahan-lahan aku menggambarkannya serta mengulang-ulanginya dengan sangat teliti. Waktu terus berjalan hingga tak terasa aku telah selesai menggambarkan sebuah desain baju, aku menamakan gambar baju tersebut dengan “dreamhappy” artinya baju yang melambangkan keindahan dalam bermimpi. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, ternyata sejak tadi aku belum mengisi perutku karena terus fokus menggambar desain baju, aku memutuskan untuk mandi dan makan terlebih dahulu, jam 8 malam akupun memulai menjahit baju yang telah kudesain sebelumnya, aku menjahitnya perlahan-lahan dengan rasa sabar, sungguh membutuhkan waktu yang sangat lama karena aku tidak punya mesin jahit ditambah lagi kemampuan menjahitku yang tidak terlalu baik dan hanya bermodalkan tutorial dari youtube. Kulihat jam dinding ku menunjukkan pukul 3 pagi, ternyata sejak tadi aku terus menjahit hingga mata ku berat sekali, akhirnya akupun tertidur di meja tempat ku menjahit.
Minggu, 16 Maret 2017 terdengar suara ibu membangkunkan ku “Mila… kamu tidak melihat sudah jam berapa? Cepat bangun!” “hari ini mama dan Nadine mau pergi ke kota, kamu jaga rumah dan jangan lupa beres-beres” ucap mama. Aku pun mengangguk setuju, sendiri dirumah memang sudah jadi kebiasaanku dan aku nyaman akan hal itu. Setelah mandi dan sarapan, aku kembali melanjutkan jahitan ku, target ku hari ini harus selesai dan aku akan langsung mengirimkannya, seharian penuh aku berusaha menjahit baju tersebut dengan seteliti mungkin, tak lupa pula kuberi manik-manik yang indah dibagian lehernya serta kutempelkan sayap di bagian belakangnya, aku tertawa geli melihat sayap yang kutempel di belakang baju tersebut, sedikit aneh memang namun aku membuatkan sayap tersebut dengan maksud bahwa baju itu terkesan akan membawa terbang mimpi dan cita-cita ku setinggi mungkin. Tidak terasa jam 5 sore aku sudah menyelesaikan baju dreamhappy tersebut, akupun mencoba mengenakannya, kutatap cermin dan aku tersenyum, bajunya sangat indah seakan-akan menggambarkan seorang malaikat yang indah dengan sayapya, aku membungkus baju tersebut serta kertas berisi gambar dan penjelasan baju tersebut dan aku bergegas untuk mengirimkannya pada perusaahan tersebut. Setiap hari aku membuka pesan di email ku berharap ada pengumuman menang dari perusahaan yang mengadakan lomba tersebut namun aku belum juga menerimanya, akupun pasrah dan menoba ikhlas bahwa mungkin aku memang tidak menang.
Rabu 19 Maret 2017 suara rintik hujan di pagi hari membangunkan ku, aku membuka mata ku serta membalikkan badan ku, aku merasa kaget karena disamping ku mama dan Nadine sedang tidur disampingku, aku masih tidak percaya dan terus menatap mama dan Nadine yang sepertinya masih sangat nyenyak, tiba-tiba mama pun membuka matanya dan langsung memeluk ku begitu juga dengan Nadine, aku masih heran dengan apa yang terjadi, tiba-tiba mama berkata “Maafkan mama sayang, mama tidak pernah menjadi sosok yang baik buat kamu, mama selalu membandingkan kamu dengan yang lain bahkan tidak pernah mengganggap kamu berharga” ucap mama sambil membuka sebuah surat untuk ku, aku melihat sebuah surat bertulisan “Selamat kepada Mila Afrida, desain dan baju yang telah anda kirimkan terpilih menjadi top choice terbaik di ajang Nasional dan Internasional, anda berhak mendapatkan uang tunai sebesar Rp 10.000.000 dan dipersilahkan untuk berangkat salah satu universitas di luar negeri untuk melanjutkan sekolah desainer dengan beasiswa penuh ditanggung oleh perusahaan”.Hatiku berdebar dan badan ku gemetar, aku memukul wajah ku berulang kali dan berharap ini bukan mimpi. “Kamu berhasil sayang” ucap mama pada ku… hari itu adalah hari pertama aku melihat mama menangis dan tersenyum bangga dengan prestasi ku, “selamat untuk mu my beloved sister” ucap Nadine pada ku, oh Tuhan rasanya tiada hal yang lebih indah selain merasakan pelukan mama dan Nadine serta hari ini tercapai langkah ku untuk menjadi desainer hebat.
Aku sempat berpikir bahwa menggapai cita-cita yang tinggi adalah sebuah angan-angan ku yang tidak akan terwujud, ditengah situasi dan lingkungan yang terkadang tidak mendukung bahkan menjatuhkan ku, namun aku masih punya diri ku sendiri sebagai kekuatan utama ku.
Jika ingin hasil besar maka usahanya memang harus lebih besar, rintangan dan kesulitan memang akan selalu ada namun dengan semangat,doa serta kerja keras segalanya masih mungkin terjadi.
Komentar