Teori belajar kognitif
Dalam teori belajar behaviorisme yang sebelumnya, aktifitas belajar selalu dikaitkan ddengan reward (pemberian ganjaran) dan punishment (pemberian hukuman). Bahkan bukan hanya terbatas dalam belajar, tetap dalam segala perilaku dan aktifitas, semua didorong karena adanya reward dan punishment. Seorang anak rajin sekolah karena takut tidak naik kelas (punishment), seorang pegawai rajin bekerja karena ingin mendapatkan bonus (reward). Shalat dhuha karena ingin dilancarkan rezeki (reward). pergi kesekolah tepat waktu karena takut dihukm (punishment). Nah itu sebagian kecil dari contoh teori behaviorisme ini.
Berbeda halnya dengan behaviorisme, pemahaman kognitif cenderung memahami perilaku lebih kepada "understanding". Seseorang melakukan selakukan sesuatu buka sebab memiliki alasan untuk melakukannya, tetapi karena ia paham betul sesuatu tersebut perlu dilakukan (because understanding).
Kita ambil contoh berikut, seorang anak rajin belajar bukan kaarena ingin juara kelas atau takut tidak naik kelas, tapi karena ia paham bahwa belajar merupakan sebuah kewajiban. Seseorang mengerjakan shalat 5 waktu bukan karena ingin mauk surga atau takut masuk keneraka, tapi ia paham betul bahwa shalat adala sebuah kewajiban, sebuah bentuk rasa syukur seorang hamba kepada Tuhannya.
Dalam konteks ini, kaum kognitif berusaha menempatkan manusia sebagai individu berpikir, yang dengannya dapat mengendalikan perilaku ketimbang hewan yang dibentuk berdasarkan stimulus lingkungan. Karena tokoh-tokoh behaviorisme selalu melakukan research dengan binatang. Salah satunya eksperimen pavlov dengan anjing terkait Stimulus Conditioned.
Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Ada istilah yang cukup populer "cogito ergo sum," saya berpikir maka saya ada. Bukan hanya perilaku, bahkan eksistensi seseorang disebabkan karena ia berpikir.
Maka dari itu,jika ingin mengubah perilaku seseorang maka ubahlah pola pikirnya. Ada sebuah cerita imajinatif. Suatu ketika, ada seorang ibu yang sangat takut pada komputer. Karena ketakutannya, ia tidak mau masuk ke kamar anaknya karena didalamnya ada komputer. Perspektifnya tentang komputer adalah barang yang mahal, canggih, dan kalau salah tombol bisa-bisa meledak.
Bagaimana cara mengubah sikap dan perilaku ibu tadi agar mau masuk kamar anaknya lagi?
Si anak lalu menghiasi komputer dengan berbagai hiasan, dengan kertas warna-warni, kertas kado, pernak-pernik agar tampak menarik dan tidak menakutkan. namun, usaha anaknya sia-sia. ibunya tetap tidak mau masuk anaknya kakrena ia masih takut komputer.
Mengubah pola pikir bukan mengubah objek sehingga tampak menarik. Akan tetapi, mengubah cara pandang seseorang terhadap objek. Melalui "continues understanding" internalisasi pemahaman yang terus menerus.
Jika cara pandang berubah maka sikap dan perilaku anak terhadap sesuatu akan turut berubah. Namun, para orang tua masih lebih memilih dan lebih suka menstimulasi anak-anak dengan reward dan punishment yang hanya berefk jangka pendek, darpada melakukan "continues understanding" yang bertahan lebih lama dalam benak anak.
Jika teman-teman mencari referensi tentang pembahasan diatas, teman-teman bisa membaca buku Nalar Kritis pendidikan karya DR. M. Arfan Mu,ammar, M.Pd.I dan jika ada masukan atau ritikan, kita diskusikan di kolom komentar.

Komentar